The Little Voice Inside Your Heart

9 Sep

Bulan puasa kemaren saya sempet ikutan kakak saya launching novel pertamanya di GI. Novel pertama yang berjudul Sketsa Terakhir ini merupakan project dari penulis terkenal, Clara Ng. Jadi sebelumnya Clara Ng mengadakan kelas menulis. Kemudian diakhir kelas tersebut diadakan sebuah project (menulis tentunya). Dua sampai tiga orang peserta kelas menulis harus menulis sebuah novel. Kakak saya berkolaborasi sama seorang temennya, Vannypn. Eh, Vanny ini juga berprofesi sebagai pramugari looooh! ;) *penting

Ok, I’m not gonna telling you about this novel. Kalo ada yang penasaran, silahkan beli di toko-toko buku terdekat di kota Anda😀. Atau browsing dulu sinopsisnya dan pendapat beberapa orang yang udah pernah baca juga boleh. Trus kenapa saya cerita soal novel kakak saya itu? Karena saya bangga sama kakak saya. Bukan hanya soal (akhirnya) dia menulis novel *mungkin ada yang komentar “baru juga nulis 1 novel, itu pun berkolaborasi”* Tapiiii ada alasan lain.

Jadi gini. Kakak saya ini dari jaman SD emang udah seneng nulis (selain seneng baca tentunya). Dari mulai nulis diary sampai beberapa cerita pendek saya pernah baca (eh, maksudnya cerita pendeknya ajah yah!). Tapi dalam sejarah keluarga saya ga ada yang berprofesi sebagai penulis. Jadi orangtua saya ga menaruh perhatian besar sama minat kakak saya ini. Pun begitu, kebiasaan menulis kakak saya ini masih terus dijalanin. Mungkin ini yang namanya menulis untuk passion 🙂

Memasuki masa kuliah tahun 1998, kakak saya ambil jurusan Ilmu Komunikasi di Unpad. Jurusan yang masih terbilang ‘langka’ dimasa itu. Papih saya sempet bertanya-tanya, apa yang dipelajari di jurusan itu dan mau jadi apa kelak. Tapi ya sudlah, ga ada gunanya ngelarang kakak saya😀 Sama halnya seperti waktu ngelarang dia potong rambut eh malah dipotong juga model cepak ala Karenina dan dicat merah….eeerrr.

Lulus kuliah jurusan Fikom, kakak saya pun ga langsung kerja yang berhubungan sama menulis. Pernah siy kerja di salah satu situs yang cukup terkenal di Indonesia sebagai content writer. Trus abis itu pindah lagi ke kantoran sampai akhirnya memutuskan untuk resign dan ikut kelas menulis Clara Ng. Keputusan resignnya sempet bikin keluarga saya bertanya-tanya, soalnya kerjaan kakak saya di kantornya waktu itu udah enak. Lingkungan kerjanya juga enak, bos-bosnya juga. Tapi yah itulah kakak saya: ga bisa dilarang!😀

Singkat cerita, dia pun ikut kelas menulisnya Clara Ng dan mendapat project yang saya ceritain tadi diakhir kelas. Seperti penulis-penulis lainnya yang suka menuliskan nama orang di halaman awal buku sebagai dedikasi dari buku yang ditulis, begitu pun kakak saya. Kalo temannya, Vannypn, mendedikasikan novel itu untuk sang ayah yang dipanggil Baba karena rajin memberikan buku-buku, maka kakak saya menuliskan ucapan terima kasihnya bukan untuk seseorang. Bukan untuk suaminya, orangtuanya, ataupun adik-adiknya yang manis (terutama yang nomor dua :D). Tapi untuk dirinya sendiri, her teenage self. Hah?? Maksudnya?? mMmm saya siy mengartikannya semacam suara hati.  Ada dorongan dari diri sendiri yang kerap memberi kita semangat ketika kita menghadapi rintangan, yang selalu memberi semangat supaya tidak menyerah…. Ya, suara kecil yang sering muncul ketika seseorang menemui kendala dalam mencapai mimpi-mimpinya namun kebanyakan orang tidak menggubrisnya. Suara yang berasal dari diri kita sendiri, dari hati kecil kita….

Disitu saya baru mengingat kembali perjalanan menulis kakak saya. Dari respon orangtua saya yang selalu datar tiap kali diceritakan soal dunia menulis, dari komentar orang-orang ketika dia memutuskan untuk resign dan mengikuti kelas menulis, dan mungkin masih banyak lagi komentar yang kakak saya terima yang saya tidak tau. Tapi kakak saya berhasil membuktikan kalau apa yang dikerjakannya udah membuahkan hasil. Terlepas dari bagus atau tidaknya hasil itu, saya tidak ambil pusing. Karena novel ini baru yang pertama, insyaAllah nanti akan ada novel-novel selanjutnya. Dan setiap yang pertama itu pasti butuh pembelajaran. Mungkin ada yang mengkritik novel kakak saya ini disamping ada juga yang memuji. Saya berharap kakak saya bisa belajar dari respon orang-orang terhadap novel perdananya ini.

Berikut penampakan kakak saya dengan senyum bangganya waktu launching novel Sketsa Terakhir di GI (13 Juli 2013). Waktu itu dia masih hamil (belum ‘ditinggalin’ sama calon baby yang berumur 9 minggu), jadi tambah sumringah deh senyumnya🙂

Sketsa_1

pas lagi ditanya-tanya sama orang dari Plot Point

pas lagi ditanya-tanya sama orang dari Plot Point

beli novelnya, dapet tandatangan penulisnya!

beli novelnya, dapet tandatangan penulisnya!

   Dan ini penampakan adeknya si penulis….😀Sketsa_2

 

2 Responses to “The Little Voice Inside Your Heart”

  1. Baginda Ratu September 10, 2013 at 6:52 am #

    Canggihhhh… berani mengikuti kata hati, meskipun menentang arus. Bener ya, passion itu nomor 1, berikutnya jalan dan hasil akhir yg indah akan mengikuti… Btw, adiknya langsiiinggg… ketje, yah…😆

    • ratna wulandari September 10, 2013 at 11:56 am #

      iyah, ga kayak adeknya lebih mengikuti suara perut *bentar-bentar makan* ;p ahahaha saking langsingnya kalo pake celana yang pinggangnya bukan karet mesti pake peniti!😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: