Mother’s Day

22 Dec

IBU, IBU & IBU

Namaku Hesyakia, biasa dipanggil Hesy. Aku tidak tahu arti namaku, walaupun teman-teman yang aktif di Rohis mengatakan, nama adalah doa. Aku tak sempat menanyakan pada bapakku yang memberi nama itu, karena bapak meninggalkan kami saat aku berusia empat tahun.
Kini di usiaku yang ke-18 tahun aku telah dipanggil ibu. Panggilan yang sebenarnya mulia, namun panggilan tersebut hanya bagi anakku yang berusia 14 bulan dan belum dapat memanggilku dengan sempurna. Nama anakku Tamara Jennifer. Aku yang memberinya nama, karena ingin anakku cantik dan seksi seperti artis Tamara Blezinsky dan Jennifer Lopez atau Jennifer Aniston si pemeran Rachel dalam serial favoritku. Bapaknya tidak sempat memberi nama karena ia meninggalkan kami saat kandunganku berumur empat bulan, saat ia berjanji ingin menikahiku.
Putih abu-abu. Seragam ini masih melekat di tubuh sintalku. Walaupun telah melahirkan Tamara, tubuhku masih dapat dikategorikan seksi. Saat nongkrong dengan teman-teman sekolah, cowok-cowok seringkali menggodaku dan mereka tidak menyangka bahwa aku adalah seorang ibu.
Jika malam mulai merayap aku berkemas menuju sebuah kafe di selatan Jakarta. Mencari nafkah untuk membiayai hidupku dan Tamara dengan melantunkan suara merdu. Hanya sampai pukul satu malam karena paginya aku harus sekolah dan mengurus Tamara. Tidak seperti dahulu yang selalu bersenang-senang dengan Dito, bapaknya Tamara, hingga pagi hari di kafe dan mengakibatkan aku berhenti sekolah selama satu tahun.
Terbayang di benakku wajah Dito yang tampan dengan isi kantongnya yang tebal. Kami bersenang-senang di kafe, diskotik atau menelan butiran-butiran pil terlarang di rumah megahnya. Sampai akhirnya aku terlambat bulan dan di rahimku tersimpan benih mungil yang siap menjelma manjadi anak manusia. Dito menyatakan bertanggung jawab dan siap menikahiku, namun cowok itu pergi untuk selamanya. Membuat hatiku tersayat pedih. Dito meninggal dunia karena over dosis pil-pil setan itu.
Seusai menyanyi di tempatku bekerja banyak pria yang berusaha merayu untuk menemani mereka. Namun kini bukan saatnya lagi aku bersenang-senang, karena bayangan Tamara kerap menari-nari dalam benakku. Meskipun pada usia seperti ini memang seharusnya aku masih menikmati masa remajaku.
Teman-teman dugemku banyak yang meninggalkanku. Hanya Anggi yang terkadang menjenguk Tamara. Apabila melihat Tamara yang lucu, kadang Anggi menitikkan air mata teringat akan benih yang sempat tiga bulan tertanam di rahimnya, tetapi dengan terpaksa digugurkan karena orang tuanya adalah pemuka masyarakat. Orang tuanya tidak mau tercoreng namanya apabila salah satu anaknya ada yang hamil di luar nikah.
Jam dua malam aku tiba di rumah kontrakan. Kulirik rumah Mbak Ratri. Lampu ruang tengahnya masih menyala.
“Sudah pulang, Dik Hesy?”, Mbak Ratri muncul dari ruang tengah.
Aku mengangguk tak enak hati. Mbak Ratri banyak membantu kami. Beliau bersedia meminjamkan pembantunya kepadaku pada pukul sembilan sampai pukul dua malam, mengawasi Tamara saat aku bekerja. Bahkan saat aku sekolah, Mbak Ratri sering kali yang mengantar Tamara ke rumah ibuku.
“Mbak, maafkan saya yang sering merepotkan Mbak Ratri”. Aku memandang Mbak Ratri.
“Mbak Ratri tidak pernah merasa direpotkan, Hesy”, jawabnya penuh pengertian.
Kutatap bola mata wanita berjilbab itu. Dan aku menemukan ketulusan di sana.
Semoga Mbak Ratri juga mengerti akan perjuanganku mencari nafkah dengan cara seperti yang aku lakukan sekarang sebagai penyanyi malam. Sebagai ibu semua ini aku lakukan demi anakku. Jika nabi mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu, apakah surga juga berada di bawah telapak kaki ibu seperti diriku?

Namaku Srikandi Larasati. Ayah memberi nama itu agar aku dapat menjadi wanita yang setia, lembut namun pemberani seperti tokoh Srikandi dalam cerita pewayangan. Aku dipanggil Ratri hanya agar terdengar lebih singkat dibandingkan harus memanggil Srikandi atau Larasati.
Usiaku kini 35 tahun. Sudah sepantasnya aku menjadi seorang ibu dari tiga anak atau lebih seperti teman-teman sebayaku, tetapi hingga usia pernikahanku yang menginjak tahun ketujuh kami belum dikaruniai-Nya seorang anak pun.
Banyak orang memanggilku dengan sebutan ibu. Baik murid-muridku di salah satu SLTP di Bogor, pegawai-pegawai kantor di usaha periklananku atau relasi-relasi suami, semua memanggilku ibu. Sebuah panggilan yang mulia, namun aku belum seratus persen merasa menjadi ibu karena belum ada seorang bayi yang lahir dari rahimku.
Tujuh tahun kami menantikan kehadiran seorang anak. Mungkin Allah masih menginginkan kami untuk beramal dan memperhatikan anak-anak di sekitar kami. Memang jika kami perhatikan ternyata masih banyak orang-orang yang memerlukan bantuan kami. Maaf, bukan aku takabur, mudah-mudahan aku senantiasa mensyukuri nikmat-Nya. Ternyata Sang Pengasih memberi kesempatan kepada kami agar hidup kami berarti bagi orang banyak, bersamaan dengan rezeki yang terus mengalir kepada kami.
Aku sering memperhatikan Hesy. Dia tinggal di paviliun mungil milik Ibu Sarah, tetanggaku. Di usianya yang masih belia ia bekerja hingga larut malam, bahkan pagi demi mencari nafkah anak hasil hubungan terlarang dengan kekasihnya yang kini entah kemana. Aku tak ingin menanyakan lebih detail. Perjuangan demi anaknya membuatku kagum. Walaupun aku tahu lingkungan pekerjaannya tidak dapat dikatakan aman, Hesy berusaha menjaga dirinya. Ada hikmah lain bagiku. Jika ia pulang dari tempat kerjanya aku terbangun untuk mengerjakan shalat tahajud.
“Saya tidak ingin tergelincir untuk kedua kalinya, Mbak”, katanya suatu waktu.
Suatu saat aku akan memberinya pekerjaan di perusahaan kami. Aku tak ingin tiba-tiba menyuruhnya meninggalkan pekerjaan yang ia tekuni sekarang. Biarlah dengan kesadaran sendiri ia beralih, karena saat ini yang ia tahu menyanyi adalah satu-satunya kemampuan yang dikuasainya.
Itulah kehendak-Nya. Hesy yang harus mencari uang mati-matian justru dikaruniai anak di saat ia belum menginginkannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Kalimat itu terngiang di pikiranku. Apakah aku memiliki surga itu?

Namaku Yukabid. Orang-orang memanggilku Yuka seperti nama wanita Jepang. Padahal Ibu memberi nama itu agar aku menjadi wanita saleh seperti ibunda Nabi Musa AS. Meskipun nama panggilanku seperti nama wanita Jepang atau nama ibunda Musa AS, aku belum pernah ke Negeri Sakura atau ke Sungai Nil. Aku justru tinggal di pinggir sungai Ciliwung yang kumuh.
Pekerjaan suamiku adalah pemulung dan aku kini tidak bekerja lagi sebagai tukang cuci di rumah ibu Ratri, karena aku tengah mengandung anak ketigaku. Entahlah bagaimana aku harus membiayai kehidupan kami berlima kelak. Penghasilan suamiku jauh dari cukup. Bahkan saat usia kehamilanku menginjak bulan kelima, kami hanya makan malam dengan kecap dan kerupuk sebagai lauk.
“Mbak Yuk, ini susu yang harus Mbak Yuk minum selama hamil”, ibu Ratri menyodorkan susu khusus untuk ibu hamil ketika usia kandunganku memasuki bulan ketiga. Dan hingga usia kandungan menginjak bulan ke tujuh aku berhenti bekerja.
Anak adalah rezeki Gusti Allah. Itu kata ibuku ketika aku masih kecil. Tetapi kini aku berpikir, karena kehadiran anak, kami justru harus lebih membanting tulang untuk memberi makan anak-anak kami.
Tok… tok… tok….
“Assalamualaikum”, suara halus terdengar dari balik pintu rumah kumuh kami.
“Ibu Ratri?!”, Aku terpekik kaget melihat sosok anggun berdiri di hadapanku. Sosok anggun dan inteleknya semakin terpancar di balik jubah dan jilbabnya.
“Terima kasih Ibu berkenan datang ke tempat kediaman kami yang sebenarnya tidak layak sebagai rumah”, ujarku lirih. Deretan mutiara tersembul dari bibir merah jambunya. Kesederhanaan yang ia usahakan memancarkan dari dirinya tidak sanggup menutupi kebersihan dan pesona dirinya. Percakapan terjadi di antara kami.
“Itu kalau Mbak Yuka tidak keberatan,” ujar Ibu Ratri seusai menawarkan jasa untuk merawat anak yang saat ini sedang aku kandung.
“Maaf beribu maaf, Bu Ratri, saya harus memikirkannya terlebih dahulu. Juga minta izin pada ayahnya anak-anak,” kepalaku tertunduk. Dan memang tak ada pilihan lain bagiku dan suamiku. Saat aku melahirkan di klinik Bidan Kartika, bayi merah itu aku serahkan langsung pada Ibu Ratri yang juga membiayai persalinanku.
“Mbak Yuka boleh menyusuinya dahulu dan merawatnya hingga bayi ini tidak menyusui lagi.”
Aku menggeleng. Biarlah bayi ini tidak mengenal ibu kandungnya. Kalau aku menyusuinya maka bayi ini akan dekat denganku dan merasakan kehangatan kasihku, sedangkan aku tidak dapat memberikan apa-apa kepadanya.
Pendidikan dan lingkungan terbaik harus didapatkan anak ini. Aku tidak ingin dia menjadi seorang pengamen jalanan seperti kakaknya yang pertama, atau kakak perempuannya yang trauma mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari tetangga kami.
Layakkah aku disebut seorang ibu yang baik jika dengan mudah aku menyerahkan anakku kepada orang lain? Semoga Allah mau mendengarkan penjelasanku kelak di akhirat, apabila Dia menuntut pertanggungjawabanku. Dan semoga surga itu masih berkenan berada di telapak kakiku.

(Source: by Asmanadia)

Cerita diatas salah satu cerita favorit saya. Saya lupa dapet dari mana, sepertinya salah satu buku karangan Asmanadia (correct me if I’m wrong). Filenya tersimpan gitu ajah di laptop saya. Udah cukup lama, sekitar awal 2006. Tapi saya selalu ingat bahkan suka sekali menceritakannya kepada siapa ajah yang mau denger hahaha!  Bener-bener ngegambarin perjuangan seorang ibu dari berbagai keadaan.  Ga perlu nunggu sampai kita menjadi seorang ibu untuk mengerti dan merasakan kasih sayang dan perjuangan seorang ibu ke anaknya. Start from now be a good daughter for your mother!

Happy Mother’s Day to all mothers in the world! Every woman who loves and takes care of a child is a mother🙂

2 Responses to “Mother’s Day”

  1. herina January 18, 2012 at 11:29 am #

    subhanallah.. bagus mbak, ceritanya.. bikin saya berkaca2 dan meneteskan air mata.. salam knal yaa🙂

    • ratna wulandari January 18, 2012 at 11:35 am #

      Subhanallah…saya juga suka banget sama ceritanya! Berkali-kali baca, berkali-berkali juga saya ngerasa trenyuh. Sebenernya bukan saya yg nulis cerita itu. Udah lama saya simpen file cerita itu di laptop saya, saking saya sukanya. Sayangnya, di file itu ga tertulis nama pengarangnya. Kalo ga salah siy AsmaNadia, the great author hehehe😉 Salam kenal juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: